step222
Kamis, 25 September 2014
Budaya dan tradisi di bali
Bale Kul-Kul, pulau bali memiliki beragam warisan budaya leluhur yang masih tertanam dan melekat erat di masyarakat bali itu sendiri, berbagai tradisi yang unik dan masih di pegang erat di kalangan masyarakat . budaya dan tradisi memiliki ciri khas tersendiri di masing-masing daerah, desa, maupun banjar yang ada di bali. bali memiliki kekayaan budaya yang beragam dan merupakan suatu tugas masyarakat untuk melestarikannya, tidak tergilas atau bergeser karena pengaruh dunia yang modern saat ini. unsur-unsur budaya yang dimiliki bali yang berbentuk musik sepert gamelan adalah rindik, jegog, dan genggong. bali juga memiliki seni tari seperti tari barong, tari kecak, tari pendet, tari gambuh, tari joged dan masih banyak lagi yang lainnya. bali juga memiliki bahasa dan pakaian adat daerah sendiri dan dari segi realigi mayoritas penduduknya beragama hindu.budaya dan tradisi yang unik ini membuat salah satu penyebab bali menjadi daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi dari berbagai kalangan masyarakat lokal atau interlokal. berikut beberapa budaya dan tradisi unik masih terjaga kelestariannya. Bale Kul-Kul
ngaben
3.Upacara-Ngaben-Tradisi-Sakral-Menyucikan-Roh-Orang-yang-Telah-Meninggal.1
Ngaben adalah upacara pitra yadnya. tradisi ini masih dilakukan secara turun tremurun oleh hampir semua masyarakat hindu di bali, tubuh manusia terdiri dari badan halus dan badan kasar. badan kasar terdiri dari 5 unsur yaitu zat padat, cari, panas, angin dan ruang hampa. lima elemen ini disebut panca maha butha. pada saat meninggal emelen ini akan menyatu kembali ke asalnya dan badan halus yang berupa roh yang meninggalkan badan kasar akan disucikan pada saat upacara ngaben. Bale Kul-Kul
Jumat, 22 Agustus 2014
All Seasons Denpasar terletak di Pusat Kota Denpasar. Dari pantai Kuta berjarak kurang dari 20 menit. Hotel memiliki 153 kamar yang menawarkan desain kontemporer yang menciptakan suasana nyaman serta rileks untuk pelancong bisnis maupun pelancong santai.Tiap kamar dilengkapi fasilitas membuat teh dan kopi, brankas dalam kamar TV LCD, juga tersedia koneksi internet WIFI gratis.
Hangat, ramah dan modern, dengan tempat tidur yang nyaman dan kamar mandi fungsional. kamar kami memiliki semua yang Anda perlukan untuk kesenangan selama menginap.
DAFTAR KAMAR
Kamar Superior Dengan 1 Tempat Tidur Queen
kamar beraneka warna dan modern dipadukan dengan sentuhan Bali, All Seasons Denpasar sungguh ideal untuk pelancong bisnis dan santai. Tiap kamar dilengkapi WiFi gratis serta musik dari Ipod Dock, TV dengan layar LCD, dan Pengering Rambut.
Kamar Superior Dengan 2 Tempat Tidur Single
kamar beraneka warna dan modern dipadukan dengan sentuhan Bali, All Seasons Denpasar sungguh ideal untuk pelancong bisnis dan santai. Tiap kamar dilengkapi WiFi gratis serta musik dari Ipod Dock, TV dengan layar LCD, dan Pengering Rambut.
Kamar Superior, 1 tempat tidur queen, dengan Ba lkon
kamar beraneka warna dan modern sungguh ideal untuk pelancong bisnis dan santai. Tiap kamar dilengkapi WiFi gratis serta musik dari Ipod Dock, TV dengan layar LCD, dan Pengering Rambut, terhubung ke balkon pribadi.
Kamar Superior, 2 tempat tidur single, dengan B alkon
Ini adalah penyelenggaraan Sanur Village Festival yang ke-9 kalinya, dengan tetap mengutamakan nilai-nilai sosial budaya maka diharapkan mampu memberikan dimensi baru dan wawasan kepada masyarakat.
Jadwal pra-program Sanur Village Festival 2014:
- 15 Agustus 2014: Photo Exhibition
- 16 Agutstus 2014: Sanur Run
- 20 Agustus 2014: Sanur Kreatif Expo
- 21 Agustus 2014: Village Cycling Tour
- 22 Agustus 2014: Surfing Competition
- 23 Agustus 2014: Golf Tournament
- 24 Agustus 2014: Sanur Kite Festival
- 20 – 24 Agustus 2014: 9th Sanur Village Festival 2014
Program acara utama:
- Environment Activities:
- Beach clean up
- Coral plantation
- Pelepasan tukik
- Extinction plantation
- Festival Exhibition:
- Cullinary:
- Food Festival
- Food Heritage
- Painting:
- Painting on the spot
- Body Painting
- Workshop:
- Creatives Workshop
- Photography:
- Photo Exhibition
- Photo Competition
- Fun & Sport activities:
- Sanur Kite Festival
- Fun Games
- Fun Run
- Sanur Golf Tournament
- Jukung Competition
- Fishing Tournament
- Kids Zone
- Sanur Cycling Tour
- Surfing Competition
- Yoga
- sumber : http://jadwalevent.web.id/sanur-village-festival-2014
Menjelang hari Raya Nyepi, ada satu prosesi lagi yang dilakukan oleh sebagian besar Umat Hindu, khususnya generasi muda yaitu mengarak Ogoh-ogoh keliling Desa Pekraman setempat.Ogoh-ogoh sebagai simbol Bhuta Kala, salah satu unsur peran dalam kehidupan manusia, yang jika pada ajaran Agama Islam, malah diusir dari tempat tingalnya, seperti yang sering ditayangkan televisi, Umat Hindu malah memberikan sesaji dan persembahan pada mereka, agar mereka nantinya tak merusak tatanan kehidupan manusia.
Umat Hindu memang demikian.
Memberikan sesaji pada seluruh unsur kehidupan manusia, baik nyata maupun tak nyata. Baik hidup maupun benda mati.
Ogoh-ogoh yang sempat dilarang pembuatannya ditahun-tahun lalu, kini sesudah 3 tahun generasi muda Banjar Tainsiat mulai berani menyalurkan ekspresi kebebasannya.
Gak tangung2, Ogoh-ogoh ukuran 8 meter panjang kali 3 meter pun dirancang dalam waktu 2 hari, dengan masa pengerjaan yang hanya 5 hari.
Menghabiskan dana sebesar 8 juta rupiah, diluar baju seragam yang disumbangkan oleh donatur ’5 a Sec’.
Dana ini sebagian didapat dari sumbangan warga banjar juga orang-orang yang tergolong high class, setingkat Anggota DPR-lah.
Sekitar 2,5 juta dihabiskan untuk membuat topeng Ogoh-ogoh Lihat saja perbandingan antara 1 orang manusia, dengan tinggi dan panjang Ogoh-ogoh
Luar biasa untuk ukuran Kota Denpasar, yang setelah disurvey siang tadi, gak ada yang berukuran seperti ini.
Merancang tema ‘Celuluk Bengong’.
Satu tokoh dalam sejarah budaya Umat Hindu, yang mencerminkan tokoh jahat dimana perannya takkan pernah bisa hilang, sehingga disebut ‘Rwa Bineda’.
Seperti halnya sifat manusia yang ada 2, mutlak ada dalam setiap orang dimuka bumi ini.
Rencananya Ogoh-ogoh ini akan diarak setelah ‘Sandya Kala’, dimana diyakini dalam rentang waktu tersebut, para Butha Kala berkuasa akan seluruh wilayah di Bali.
Jadi setelah dilakukan upacara ‘Mecaru’ di masing-masing rumah, dengan melakukan persembahyangan bersama, hingga berkeliling dengan kentongan dan pelepah kelapa yang dibakar, barulah prosesi Ogoh-ogohdimulai.
Mengambil rute yang tak biasanya, dimana seharusnya hanya disekitar Desa Pekraman setempat, kali ini malah akan keluar dari seputaran Desa, dengan pertimbangan besar Ogoh-ogoh yang mungkin takkan mampu dilalui lewat jalan kecil. Dan juga keegoisan generasi muda, yang telah susah payah melahirkan karya dalam waktu singkat dengan ukuran big size, menganggap mubazir jika Ogoh-ogoh hanya diarak disekitar Desa Pekraman.
Satu harapan seluruh warga Banjar, semoga saja generasi muda mampu menahan diri dijalanan nanti, tak bentrok dengan sesamanya, sehingga bisa pulang kembali dengan selamat.
Semoga.
sumber : http://www.pandebaik.com/tag/ogoh-ogoh/page/10/
Menjelang hari Raya Nyepi, ada satu prosesi lagi yang dilakukan oleh sebagian besar Umat Hindu, khususnya generasi muda yaitu mengarak Ogoh-ogoh keliling Desa Pekraman setempat.Ogoh-ogoh sebagai simbol Bhuta Kala, salah satu unsur peran dalam kehidupan manusia, yang jika pada ajaran Agama Islam, malah diusir dari tempat tingalnya, seperti yang sering ditayangkan televisi, Umat Hindu malah memberikan sesaji dan persembahan pada mereka, agar mereka nantinya tak merusak tatanan kehidupan manusia.
Umat Hindu memang demikian.
Memberikan sesaji pada seluruh unsur kehidupan manusia, baik nyata maupun tak nyata. Baik hidup maupun benda mati.
Ogoh-ogoh yang sempat dilarang pembuatannya ditahun-tahun lalu, kini sesudah 3 tahun generasi muda Banjar Tainsiat mulai berani menyalurkan ekspresi kebebasannya.
Gak tangung2, Ogoh-ogoh ukuran 8 meter panjang kali 3 meter pun dirancang dalam waktu 2 hari, dengan masa pengerjaan yang hanya 5 hari.
Menghabiskan dana sebesar 8 juta rupiah, diluar baju seragam yang disumbangkan oleh donatur ’5 a Sec’.
Dana ini sebagian didapat dari sumbangan warga banjar juga orang-orang yang tergolong high class, setingkat Anggota DPR-lah.
Sekitar 2,5 juta dihabiskan untuk membuat topeng Ogoh-ogoh Lihat saja perbandingan antara 1 orang manusia, dengan tinggi dan panjang Ogoh-ogoh
Luar biasa untuk ukuran Kota Denpasar, yang setelah disurvey siang tadi, gak ada yang berukuran seperti ini.
Merancang tema ‘Celuluk Bengong’.
Satu tokoh dalam sejarah budaya Umat Hindu, yang mencerminkan tokoh jahat dimana perannya takkan pernah bisa hilang, sehingga disebut ‘Rwa Bineda’.
Seperti halnya sifat manusia yang ada 2, mutlak ada dalam setiap orang dimuka bumi ini.
Rencananya Ogoh-ogoh ini akan diarak setelah ‘Sandya Kala’, dimana diyakini dalam rentang waktu tersebut, para Butha Kala berkuasa akan seluruh wilayah di Bali.
Jadi setelah dilakukan upacara ‘Mecaru’ di masing-masing rumah, dengan melakukan persembahyangan bersama, hingga berkeliling dengan kentongan dan pelepah kelapa yang dibakar, barulah prosesi Ogoh-ogohdimulai.
Mengambil rute yang tak biasanya, dimana seharusnya hanya disekitar Desa Pekraman setempat, kali ini malah akan keluar dari seputaran Desa, dengan pertimbangan besar Ogoh-ogoh yang mungkin takkan mampu dilalui lewat jalan kecil. Dan juga keegoisan generasi muda, yang telah susah payah melahirkan karya dalam waktu singkat dengan ukuran big size, menganggap mubazir jika Ogoh-ogoh hanya diarak disekitar Desa Pekraman.
Satu harapan seluruh warga Banjar, semoga saja generasi muda mampu menahan diri dijalanan nanti, tak bentrok dengan sesamanya, sehingga bisa pulang kembali dengan selamat.
Semoga.
sumber : http://www.pandebaik.com/tag/ogoh-ogoh/page/10/
Kamis, 21 Agustus 2014
Denpasar - Polemik rencana reklamasi Teluk Benoa di pesisir selatan Kota Denpasar, Bali hingga saat ini terus berlanjut. Ahad, 16 Februari 2014, ratusan warga Denpasar yang mengatasnamakan Jaringan Aksi Tolak reklamasi (Jalak) Sidakarya, menggelar unjuk rasa.
Mereka menggelar panggung terbuka di tengah jalan sehingga jalur lalu lintas antara Sanur dan Sesetan ditutup selama dua jam. Dalam aksi itu, para demonstran yang didominasi anak-anak muda membubuhkan cap jempol darah. Mereka juga mewarnai unjuk rasa itu dengan pembacaan puisi dan nyanyian lagu-lagu perjuangan.
"Apakah Saudara setuju Bali ditenggelamkan oleh segelintir orang dengan alasan peningkatan pendapatan asli daerah? Penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa adalah harga mati,” teriak salah seorang pengunjuk rasa, Made Sudarta, saat berorasi.
Sudarta menjelaskan reklamasi Teluk Benoa akan membahayakan Desa Sidakarya dan kawasan lain di pesisir selatan Kota Denpasar, seperti Sanur, Pamogan, dan Sesetan. Saat ini letak kawasan itu hanya dua meter di atas permukaan laut. Sedangkan reklamasi direncanakan setinggi enam meter. "Sidakarya dan kawasan lain di pesisir selatan Kota Denpasar akan tenggelam," ujarnya.
Karena itu, Sudarta mendesak Gubernur Bali Made Mangku Pastika segera mencabut Surat Keputusan (SK) Nomor 1727/01-BH/2013. Surat keputusan itu mengizinkan digelarnya studi kelayakan reklamasi Teluk Benoa. "Apabila SK tidak dicabut, mari kita melakukan pembangkangan sosial terhadap Gubernur Bali," ucap Made Sukerta, pengunjuk rasa lainnya yang juga berorasi.
Ketua Jalak Sidakarya, Nyoman Putrawan, bahkan menantang Presiden Susilo Bambag Yudhoyono karena dianggap memuluskan rencana reklamasi. "Presiden SBY telah mengubah zonasi konservasi di Teluk Benoa, maka berarti telah merestui rencana reklamasi tersebut," tuturnya.
Rabu, 20 Agustus 2014
Tradisi bermain layang layang atau melayangan memang sudah sangat kental di Bali, dimana pada masa lampau untuk mengisi waktu senggang selain bercengkrama kegiatan mereka juga diisi dengan melayangan. Awal dari tradisi ini, lahir suatu tradisi saat seorang gembala bajak sawah yang mengisi waktu senggang untuk menaikkan layang-layang di tengah hamparan sawah yang luas. Dimana dikenal dengan istilah “Rare Angon” ( dalam cerita pewayangan merupakan putra dewa siwa yang berwujud anak kecil )
Saat ini ” melayangan” masih sering dilaksanakan oleh masyarakat bali, baik anak-anak sampai orang dewasa. Dari Bali bagian timur sampai bagian barat, bagian utara sampai bagian selatan. Kreativitas mereka tuangkan dalam berbagai wujud layang-layang baik yang bersifat tradisional maupun Layangan Kreasi Baru.
Untuk menunjang kreativitas masyarakat Bali dan promosi pariwisata Bali terutama dalam kegiatan melayangan, dalam interval waktu bulan Juli sampai bulan Agustus diadakan berbagai festival layang-layang baik yang bersifat lokal maupun internasional yaituaka Festival Layangan Internasional Padang Galak Sanur, Festival Layangan Pantai Mertasari Sanur dan terakhir di penghujung musim diadakan Festival Layangan Tanah Lot Tabanan. Dan diikuti oleh masyarakat Bali terutama oleh kelompok-kelompok Banjar yang tersebar di beberapa kabupaten yaitu Gianyar, Badung, Tabanan , dan Kodya Denpasar.Dalam festival layang layang terdapat beberapa kriteria penilaian diantaranya seni bentuknya, warnanya, suara guangan yang dihasilkan, indah gerakannya saat berada diudara dan yang terakhir ketahanan layang layang diudara.
Dibali kita mengenal beberapa jenis layangan tradisional , mungkin teman teman ada yang belum mengetahui atau lupa?.... ini saya bahas kembali
1 Layangan Bebean
Layangan ini sangat sering diikutsertakan dalam festival layang layang, karena keindahannya saat berada diudara bagaikan ikan yang berenang dan menari-nari dalam air dan juga memiliki suara guangan yang indah, sehingga banyak yang menyebut layangan ini dengan layangan bebean, di beberapa daerah di Bali layangan ini disebut "layangan Bebean, layangan kepes,bahkan di desa saya yaitu Desa Mengwi layangan ini disebut layangan Potongan Badung
2. Layangan Janggan
Layangan ini berbentuk naga dengan kepala yang terbuat dari kayu dan diukir sedemikian rupa
sehingga menyerupai sosok naga dalam mitologi Bali, layangan ini dikenal sebagai layangan yang sangat banyak menghabiskan bahan, bayangkan untuk membuat satu buah layangan ini dengan ukuran lumayan besar, bisa menghabiskan sampai 20 meter kain parasut, waaaw..... sama halnya dengan layangan bebean, layangan ini juga memiliki guangan, di desa saya layangan ini lebih dikenal dengan nama "janggar janggaran.
sehingga menyerupai sosok naga dalam mitologi Bali, layangan ini dikenal sebagai layangan yang sangat banyak menghabiskan bahan, bayangkan untuk membuat satu buah layangan ini dengan ukuran lumayan besar, bisa menghabiskan sampai 20 meter kain parasut, waaaw..... sama halnya dengan layangan bebean, layangan ini juga memiliki guangan, di desa saya layangan ini lebih dikenal dengan nama "janggar janggaran.
3. Layangan Pecuk
Layangan ini sangat simple, tetapi butuh keahlian khusus untuk menerbangkannya, karena layangan ini sangat lincah di udara dan bisa menyambar nyambar, dalam festival layang layang layangan ini di nilai berdasarkan keahlian orang yang menerbangkannya dan ketahanan layangan ini berada diudara.
4. Layangan kreasi
Langganan:
Postingan (Atom)

![[Ogoh21.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiPF3OWyt0GSCE3ZiAmAiC4cd7no1XUpHSleqSpq4VloXMtxdhcnIaadXNg-0yRBRfhiiPQdUHf5_w0gLIfPxIE5ZBE0et0qMeBWDvF0-lcfFd9QM_Ez0uYarwoa7C-lgUlrsb1zvsFnDc/s1600/Ogoh21.jpg)
